Dana Darurat: Nasihat Finansial yang Terasa Kosong bagi Gaji UMR


Dana darurat adalah uang tabungan atau simpanan yang disisihkan tiap bulan hingga nilainya mencapai 3 sampai 12 bulan kebutuhan pokok dalam 1 bulan. Secara matematis, rumusnya sederhana: kalikan pengeluaran bulananmu dengan angka tiga, enam, atau dua belas. Jika hidupmu butuh Rp3 juta sebulan, maka simpanlah Rp9 juta di rekening. Dengan begitu ketika kamu menghadapi situasi yang tidak terduga, kamu siap bertahan hidup dalam 3 bulan kedepan bahkan tanpa gaji.

Masalahnya, bagi banyak orang, angka Rp9 juta itu bukan angka yang kecil, angka itu seperti fatamorgana di hadapan gaji UMR yang hanya cukup untuk bernapas sampai tanggal 25, angka itu terasa seperti ejekan.

Apakah gaji UMR dapat menabung dana darurat namun dengan hidup layak?

Jawaban nya tentu "Tergantung Kondisi Hidupmu". Terus terang saja berapa sih gaji UMR kita? katakanlah gaji UMR Kota Surabaya yaitu sebesar Rp. 5.288.796,- per awal tahun 2026, Berapa sih sisa pengeluaran tiap bulan? 

Anggaplah sisa uang dalam 1 bulan adalah 50% dari gaji UMR, berarti kamu masih ada sisa uang sebesar Rp. 2.644.398,- Asumsikan saja 1jt biaya tempat tinggal dan 1,6jt biaya hidup. 

Rp. 2.644.398,- adalah nilai yang besar, tentu jika kamu hanya hidup di KOS tanpa Hangout, tanpa nongkrong di Coffe Shop, tanpa mencukupi kebutuhan sandangan kamu. Namun apakah ada manusia yang seperti itu? tidak beli baju, tidak nongkrong, tidak membeli barang-barang hobby mereka, tidak beli skincare?

Baiklah mari kita anggarkan 1jt untuk itu semua, sebagian orang menggunakan skincare, sebagian lagi perokok, sebagian lainnya punya hobby yang mahal.

Sekarang uang kamu dalam sebulan tersisa Rp. 1.644.398,- 30% dari gaji pokok.

Apakah gaji UMR bisa punya dana darurat?

Cukup, bagi kamu yang tidak memiliki tanggunan, istri, orang tua dan mertua, motor yang belum berumur, dan segala kebutuhanmu telah terpenuhi. Apakah 30% dari gaji pokok kamu jika dikurangi biaya lain-lain ini masih ada sisa? berapa sisanya? 

Tidak semua manusia memiliki privilege yang sama, ada yang punya beban orang tua menyebalkan, sudah di anggarkan Rp. 500.000,- masih kurang dan ini merusak rencana keuanganmu tiap bulan. Ada yang punya motor tua, tiap bulan ada aja penyakit muncul, ada yang belum punya laptop yang memadai untuk bekerja sedangkan kantor tidak mensupport laptop.

Belum lagi jika kamu harus fokus menabung untuk sesuatu misalkan rumah, biaya pernikahan, atau biaya melahirkan dll. 

Jika sudah seperti ini kondisinya, pertanyaan bisa punya dana darurat atau tidak itu sudah tidak penting lagi. Sistem keuangan itu bukan absolut tapi relatif, sesuai dengan kebutuhanmu. Kamu tidak harus mengikuti omongan orang-orang yang mewajibkan adanya dana darurat. Apapun rencana keuanganmu, kamu yang lebih tau soal hidupmu, tentukanlah sendiri dan carilah sistem keuangan lain yg lebih enjoy untuk kehidupanmu. 

Toh kalaupun kamu memaksakan hidupmu untuk mengikuti standart hidup orang-orang motivator di youtube mu itu, mereka juga tidak akan bertanggung jawab akan uang makan mu di hari esok, di minggu depan, atau di akhir bulan ini.

Apakah dana darurat dibutuhkan?

Dana darurat bukan program yang buruk, tapi mungkin sulit untuk menyelesaikan itu dengan gaji UMR. Jika itu disebut dana darurat, realitanya tiap bulan kamu pasti ada kebutuhan darurat. Kapan kebutuhan darurat itu akan selesai? apakah kamu harus menghabiskan fokus hidupmu hanya untuk dana darurat? sedangkan banyak target hidup yang harus kamu kejar juga. 

Sebagai penutup, menurut penulis mengejar apa yang kamu inginkan dan kamu butuhkan itu jauh lebih penting. Ini sudah bukan lagi soal mana kebutuhan dan mana keinginan, sejak kamu membaca artikel ini penulis sudah menyadari bahwa pembaca bukan anak-anak remaja tapi orang-orang dewasa yang sudah bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan. 

Penulis tau kamu paham apa yang kamu butuhkan, kamu memahami apa target mu dalam beberapa tahun ke depan sesuaikanlah sistem keuanganmu dengan rencana hidupmu sendiri. 

"Sistem keuanganmu harus melayanimu, bukan sebaliknya. Jangan habiskan seluruh hidupmu hanya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk, sampai lupa untuk membangun masa depan yang sebenarnya kamu inginkan."

"Pada akhirnya, kamu yang memegang kendali, bukan angka-angka di layar HP-mu, apalagi suara-suara di layar YouTube-mu."

Thankyou.

Posting Komentar

0 Komentar